Perjalanan CInta Zahra
PERJALANAN CINTA ZAHRA
Malam itu sangat sepi dan sunyi, langit dan angin seakan bersekongkol untuk meniupkan hawa dingin pada tubuh seorang gadis ayu yang sedang menuruni anak tangga. Gadis itu bernama Zahra, anak periang bersorot mata tajam yang disegani teman-teman sebayanya di Pesantren Al-Hidayah. Jam di dinding sebenarnya masih menunjukan pukul 02.30, sebagian besar teman-temannya di asrama tempat ia mencari ilmu itu masih tertidur lelap. Agar tidak mengganggu, Zahra melangkah perlahan ketika berjalan menyusuri terowongan menuju kamar mandi. Disana dia merasakan air yang seperti lelehan es batu. Maka setelah mengambil air wudlu, kaki-kaki segera berlari kecil menuju masjid yang terlihat masih gelap.
Entah mengapa, sebelum shalat tahajud, kejadian beberapa tahun silam tiba-tiba melesat didalam benaknya. Memori yang dulu dikubur dalam-dalam seketika terbuka kembali. Sebuah memori dimana dia merasakan hatinya begitu sakit, laksana tertusuk ribuan jarum dan pisau belati. Zahra pun terseret ke sebuah dimensi waktu dimana Mukhsin berkata di telepon genggamnya. Saat itu mulutnya bungkam seribu bahasa mendengarkan apa yang dikatakan Mukhsin.
“Maaf Zahra, maafkan aku, bukan maksudku ingin menyakiti hatimu, tapi sungguh aku tidak nyaman denganmu. Selama ini bukanlah pacaran yang aku rasakan denganmu” Mukhsin berhenti sejenak.
“memang aku mencintaimu, menyukaimu, tapi sikap kedua orang tuamu membuatku jenuh. Sudah aku putuskan lebih baik aku memilih fitri”. Tidak terasa tetes air mata membasahi pipi Zahra.
Ketika mencoba mengendalikan emosinya, kata-kata Mukhsin meluncur kembali, “maaf aku membohongimu selama ini, maafkan segala keegoanku saat ini, mungkin ini yang terbaik bagi kita”. Suara mukhsin terdengar begitu jelas bagaikan petir yang membelah ubun-ubun kepalanya.
Zahra masih diam dan mencoba mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan Mukhsin, kata-kata yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dia masih bungkam untuk beberapa menit.
“Ya tidak apa-apa, aku baik-baik saja, semoga Allah selalu memberikan petunjuk untukmu Mukhsin, dan memberikan yang terbaik untuk hidupmu, aku terima keputusanmu, aku tidak akan menghubungimu lagi, terimakasih untuk semuanya, assalamu’alaikum”. Pada akhirnya dengan hati yang dikuat-kuatkan walau terbata-bata dan diiringi isakan tangis yang sedari tadi belum juga berhenti gadis itupun menjawab. Dengan segera Zahrapun menutup telepon tanpa menunggu jawaban sepatah katapun dari laki-laki yang sampai bebera jam yang lalu masih menjadi orang yang paling ia cintai.
Zahra tersentak, dia istighfar beberapa kali mengingat kejadian itu. Setelah Shalat Tahajjud dan berdoa pada Dzat pemberi cinta. Dia kembali teringat ketika menerima cinta Mukhsin. Pertama kali dia mengenal laki-laki itu adalah ketika pertama kali masuk ke SMA At-Taqwa. Mukhsin yang saat itu menjabat sebagai ketua OSIS memberikan kata-kata sambutan kepada seluruh siswa/i baru. Caranya berbicara diatas podium yang menunjukan kedewasaan, peringai orang baik, cerdas dan juga berwibawa membuat gadis abg itu menyimpan rasa suka terhadapnya. Namun betapa terkejutnya dia ketika laki-laki yang sering kali masuk dalam mimpinya itu menyatakan cinta setelah tiga bulan dirinya duduk dibangku kelas X. Sebenarnya sebelum peristiwa “penembakan” itu dia mengenal Mukhsin hanya dalam berbagai kegiatan organisasi disekolah, tanpa berfikir panjang gadis manis itupun menerima cinta pangeran pujaannya. Karena sejak awal dia memang mengagumi pesona ketua OSIS ganteng itu. Anehnya, entah mengapa kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Tapi Love is Blind, cinta itu buta. Begitu pepatah mengatakan, dan itulah yang terjadi pada dirinya. Secara diam-diam Zahrapun tetap berhubungan dengan mukhsin.
“astagfirullohal ‘Azdhim, maafkan hambamu ini ya Allah”. Zahra kembali beristighfar. Tapi ternyata lamunannya malam itu belum selesai. Dia kembali teringat beberapa bulan sebelum Mukhsin memutuskan hubungan dengannya, sempat ada SMS yang benar-benar kejam yang pernah ia dapat selama hidupnya.
Sms itu tanpa nama dan berisi “ hey!! kamu cewe keganjenan, kamu jangan sekali-kali lagi mengganggu pacar aku!”. Sms aneh yang menurut Zahra hanya membuang-buang waktu untuk meladeninya. Dia tidak pernah merasa dirinya mengganggu hubungan orang lain jadi diapun menghapus pesan tak berarti itu. Tetapi sms aneh itupun semakin bermunculan dan kata-kata yang entah siapa pengirimnya itu membuat emosi Zahra membuncah sehingga dirinyapun tidak bisa berdiam diri.
Dengan tetap berfikiran positif Zahra mencoba menjawab “assalamualaikum! Maaf ini dengan siapa? Mungkin anda salah mengirim sms”.
beberapa menit kemudian sms balasan yang menyakitkan muncul kembali, “kamu Zahra kan? Cewe keganjenan yang selalu mengganggu Mukhsin”.
Zahra tercengang mendapat sms itu, dia hanya diam kemudian tanpa berfikir panjang segera menelpon Mukhsin dan menceritakan tentang sms yang baru ia dapat entah dari siapa. Mukhsin menanggapi apa yang Zahra bicarakan dengan santai dan hanya menjawab, “mungkin itu hanya orang yang syirik terhadap hubungan kita, sudahlah jangan ditanggapi, aku tidak tahu siapa dia dan nomor handphone-nyapun aku tak mengenalnya”.
Berbulan-bulan setelah kejadian itu Zahra pendam, tanpa pernah dia mengungkitnya lagi pada Mukhsin. Dia yakin laki-laki itu setia padanya. Hingga suatu hari setelah peristiwa “pemutusan” itu Allah membukakan semua kejelekan Mukhsin, laki-laki yang ia kagumi itu ternyata adalah seorang yang suka meminum-minuman keras dan perokok berat. Dari salah satu temannya mukhsin, Zahrapun mengetahui bahwa sms tanpa nama yang dulu pernah ia terima adalah sms dari Fitri, “selingkuhan” mukhsin yang sering menemaninya ke night club.
Kembali Zahra mengucapkan istigfar dan hamdalah berulang kali menutup kenangan pahit yang memberikan banyak pelajaran berharga baginya. Setelah kejadian itu gadis itupun lebih menjaga diri dan kehormatannya dengan cara menutup aurat lebih rapat dan sering mengikuti pengajian yang diadakan oleh Ikatan Remaja Masjid disekolahnya.
Lamunan Zahra buyar ketika suara Kartika menggema di mesjid, Zahra yang tertunduk terperanjat melihat ketua asrama putri sudah berada disampingnya, suara khasnya yang serak-serak basah berbisik, “Kenapa adikku? Subuh-subuh gini ko melamun? Bukannya membaca al-Qur’an”.
Zahra hanya tersenyum kemudian membuka mushaf kesayangannya, tetapi setelah membaca beberapa ayat, ia berhenti kemudian tersenyum.
“Ayat ini benar-benar nyata” guman Zahra yang meresapi surat Al-baqarah ayat 155 sampai dengan ayat 157 tentang orang yang bersabar adalah mereka mendapatkan yang mendapat petunjuk. Kejadian ia disakiti Mukhsin setahun yang lalu, sekarang justru benar-benar sangat disyukurinya. Betapa tidak, setelah beberapa bulan Mukhsin memutuskan Zahra, hidayah menghampiri hatinya. Sekarang dia membulatkan tekadnya untuk belajar di Pondok Pesantren Al-Hidayah. Sampai saat ini dia juga sangat bersyukur kepada Allah yang masih sayang dan cinta padanya. Allah telah membukakan tabiat Mukhsin yang sebenarnya.
Karena kesabarannya yang sering dibohongi Mukhsin pula, sekarang Zahra telah bahagia dalam pinangan seorang laki-laki lain yang lebih sholeh. lelaki yang Insyaallah tawadu, bersahaja, dan berkarisma. Dialah Azmi, seorang Ustadz di pondok pesantren tempat dia sekarang menuntut ilmu. Meskipun satu pondok pesantren, tetapi Zahra tidak begitu mengenal Azmi. Peraturan di pondok membuat wanita dan laki-laki yang tidak ada ikatan saudara tidak boleh saling bertemu dan mengobrol. Zahra melihatnya hanya beberapa kali setelah dua bulan tinggal dipesantren, itupun ketika berpapasan menuju mesjid.
Tidak Zahra kira Azmi akan meminangnya hanya dalam dua kali berpapasan dijalan, dan menyatakan siap menikah tanpa perlu pacaran. Zahra bersyukur karena Azmi tidak mempermainkannya seperti yang dulu Mukhsin lakukan. Pernah ia berguman didalam hati, “Kenapa harus pacaran, toh Allah sudah menentukan jodohnya masing-masing, bukankah langitpun ditemani bumi, malampun ada siangnya, dan bulanpun selalu ditemani bintang?”.
Kartika menepuk pundak Zahra yang sedari tadi melamun “ lah ko lagi baca Al-qur’an malah senyum – senyum sendiri?” .
Zahra tersenyum lebar “Teh, bersyukur itu manis ya?!” gumamnya. Kartika hanya terheran-heran melihat tingkah Zahra yang aneh pagi ini.
_______________________________
Bandung, 28 Maret 2012

Komentar
Posting Komentar
Silahkan comment ya!!!