aku merindukannya

pagi ini, butiran embun pagi bukan hanya membasahi dedaunan yang lebat dipohon2 mahoni yang aku lihat tetapi membasahi mobil yang melesat cepat menuju arah Bandung, kabut tebal yang mulai menghilang menutupi sebagian jalan yang biasa dilewati mobil tronton aqua itu mendesahkan desiran angin lembah gunung tangkubanperahu menyapa wajahku yang duduk dikursi belakang mobil yang dikemudikan pamanku ini, anak pertamanya duduk disampingku dan bibi, istri yang sangat dicintai pamanku duduk dengan damai dikursi depan sambil mengusap_ngusap rambut si bungsu yang terpejam merajut mimpi dipagi buta, mungkin karena tadi terlalu pagi untuk dibangunkan sehingga membuat kedua bocah itu masih ingin memejamkan mata, meskipun sang ayah menjalankan mobil diatas 90 km/jam dan beberapa kali harus terperosok jalan yang berlubang sehingga mobil bergoyang begitu hebat tetapi bocah_bocah itu dengan nyenyak tanpa rasa ingin tau perjalanan mengantarku kuliah seperti apa, mereka hanya ingim tidur wajah polos mereka memberikan kedamaian membuatku melamun dalam keheningan.

Klise yang dulu terpotret dalam benakku tiba-tiba terkuak kembali saat aku menghirup udara yang masih bersih diluar jendela mobil, membuat lamunanku melanglang buana mengingat “Kakekku Tercinta” yang sudah 6 tahun meninggalkan aku dan mereka yang sekarang berada dalam satu mobil denganku, meskipun si bungsu paman belum lahir pada saat itu dan si sulung pamanku ketika itu masih sangat kecil, kira-kira berumur 2 tahun saat itu, tetapi daya ingat yang kuat membuat si sulung ini masih bisa mengingat kakekknya, dalam benaknya kakeknya adalah seseorang yang selalu shalat ketika dia berkunjung ke rumah kakek.
Rasa rindu ini terkuak ketika aku tersadar jika dua hari lagi tepatnya tanggal 19 April ummi, ibuku yang paling aku cintai akan bertambah usia ia hidup didunia dan berkurang taqdirnya hidup didunia. Ummi yang aku sayang, tumbuh dibesarkan didalam keluarga yang sederhana, memiliki seorang ayah yang luar biasa, memberikan kasih cinta yang teramat cinta untuk ke 4 anaknya, menjadikan mereka menjadi sosok yang benar-benar luar biasa, ummi contohnya, berkiprah didunia pendidikan mengabdi selama belasan tahun mencontoh pada ayahnya yang bijaksana seorang kepala dinas yang amanah, petuah-petuah yang dituangkan ayahnya selalu terekam oleh ummi hingga saat ini ia masih menyimpannya dalam berjuta-juta sel dalam otak sehingga selalu membuat ummi selalu tegar dan menjadi sosok perempuan yang super woman, membanting tulang mencari nafkah membantu suami, hingga saa ini aku tumbuh dewas tidak pernah aku melihat ummi menyusahkan suaminya, tidak pernah aku melihat ummi mengecewakan suaminya, tidak pernah ummi membantah apa yang diucapkan suaminya, aku menjadi saksi hidup perjuangan ummi mengabdi pada bapak, membantu suaminya mengibarkan panji islam, tidak pernah kenal lelah. Pernah aku mendapati ummi sedang menangis tersedu sehabis shalat tahajud ummi tidak mengucapkan sepatah katapun ketika aku bertanya ada hal apa yang terjadi hingga siangnya ummi mulai angkat bicara jika ummi teramat rindu kepada ayahnya. Ummi  yang kini menginjak 43 tahun selalu menyebut ayahnyalah yang membuat ia seperti ini sekarang.
Aku ingat ketika aku duduk dibangku SD, kakeklah yang selalu memberikan hadiah jika aku juara kelas, pasti selalu beliau yang memberikan ucapan selamat yang pertama, selalu memberikan buku cerita yang aku inginkan meskipun aku harus menginjak-nginjak kakinya sampai aku beres membaca shalawat sebanyak yang beliau suruh. Aku juga ingat, ketika perpisahan sebelum ajal menjemputnya, banyak hal yang ganjil pada saat itu, kebiasaannya untuk menyuruhku mengusap-ngusap tangan kanannya yang kaku setelah dioprasi masih kulakukan tetapi banyak cerita yang tertuang saat itu, banyak nasihat yang keluar dari bibirnya yang terlihat lelah tetapi masih berkobar mengingatkanku untuk tetap bias bertahan hidup karena cobaan akan silih berganti menghampiriku, awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang beliau bicarakan hingga 5 bulan kemudian aku mulai mengerti apa arti dari nasihat itu, aku juga masih ingat ketika ia berbisik mendoakanku dan memberikan satu lembar uang hijau ketanganku seraya berkata “jangan bilang ummi dan bapa, ini untuk bekal menuntut ilmu di bandung, jaga diri baik-baik”, aku tersenyum simpul saat itu berguman “aku masih menjadi cucu yang disayanginya lihatlah, penyakit jantung yang merenggutinya sehingga ia terlihat lusuh terlihat tak berdaging tetapi masih saja menyempatkan menyisihkan uang berobatnya untukku, untuk cucu tercintanya”.
Dua hari setelah keberangkatanku kebandung, Allah memanggilnya pulang, langit begitu indah, udara begitu sejuk saat aku mengambil wudhu pesantren tanpa aku sadari nun jauh disana, dirumah tempat aku dilahirkan seseorang yang ku cinta, seseorang yang ku sayang, seseorang yang ku hormati, seseorang yang ku kagumi dijempu oleh izrail.
Hari itu duka itu datang, dan hari ini rindu ini membuncah mengenangnya, menyisikan butiran-butiran air mata kerinduan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Bismillah

Perjalanan CInta Zahra

untukmu Ummu Kelana