Pagi sunyi sepii, ditemani bisingnya kendaraan di kota, hati kembali haru biru. Memoar lama terungkit kembali. Seraut wajah membidikan aneka memoar lama. Wajah yang etah kapan bisa bertaut sekalipun kelak di keabadian. Rindu, rindu yang tak terperikan. Menghadirkan untaian mutiara dari telaga bening. Klise memang, namun hanya itu yang mampu terungkap. Dan, beriringan dengan rasa itu berkelebatlah album hidup terkenang. Berharap dengan sepercik goresan ini, rasa rindu yang membuncah tersamarkan. Dengan niat Lillahi Ta’ala, menapak kerinduan pada sosok tercinta NENEK KUTERSAYANG,. sebelas tahun ku hidup dalam bimbingannya, aku masih sangat ingat setiap libur sekolah tiba, nenek selalu meluangkan waktunya untuk berlibur bersama, dari bayi hingga kelas enam SD aku bisa merasakan kasih sayangnya... cerita-cerita kuno pengantar tidur sering mengiringi mimpi, dulu itu semua aku anggap hanya cerita fiktif, ternyata sekarang baru terasa cerita-cerita itu nyata, cerita itu adalah sejarah...